Senin, 21 Mei 2012

BIPOLAR


       Sebelum saya menjabarkan mengenai materi yang telah saya dapatkan. Di kelas yang mendapatkan materi gangguan suasana perasaan ada tiga orang yaitu, saya sendiri, Eki, dan Heti dan untuk nghindari dari kesamaan isi nantinya, maka kami berinisiatif untuk membagi materi yang termaksut dalam gangguan suasana perasaan. oleh karena itu saya memilih gangguan suasana perasaan bipolar.
MENGENAL GANGGUAN BIPOLAR
Penyakit bipolar atau Bipolar disorder, selain itu dikenal sebagai manic depression atau bipolar depression, adalah penyakit suasan hati (keadaan jiwa) yang relatif umum yang mempengaruhi kira-kira 5.7 juta orang-orang Amerika. Dikarakteristikan oleh episode-episode dari depresi yang bergantian dengan keadaan-keadaan euphoric (sangat gembira), gejala-gejala dari penyakit bipolar adalah beberapa dan seringkali mempengaruhi fungsi harian dari individu dan hubungan-hubungan antar pribadi.
Gejala-gejala penyakit bipolar termasuk depresi dan perasaan-perasaan putus asa selama fase depresi dari kondisi. Gejala-gejala depresi lain termasuk pikiran-pikiran bunuh diri, perubahan-perubahan pada pola-pola tidur, dan kehilangan minat pada aktivitas-aktivitas yang pernah menjadi sumber dari kesenangan. Apa yang membedakan penyakit bipolar dari depresi utama adalah kejadian dari episode-spidoes manic, seringkali digambarkan sebagai "puncak-puncak" emosional, diantara episode-episode dari depresi. Gejala-gejala dari keadaan-keadaan manic adalah bervariasi dan termasuk kegelisahan, energi yang meningkat, suasana hati yang sangat gembira, pemikiran-pemikiran yang tergesa-gesa, keputusan yang buruk, kelakuan yang mengganggu atau provokatif, kesulitan berkonsentrasi, dan keperluan yang berkurang untuk tidur. Orang-orang yang mengalami episode-episode manic seringkali berbicara dengabn cepat, nampaknya sangat teriritasi, dan mungkin mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang tidak realistik tentang kekuatan dan kemampuan mereka sendiri. Untungnya, penyakit bipolar adalah kondisi yang dapat dirawat. Dengan perawatan yang tepat, kebanyakan orang-orang yang menderita penyakit bipolar dapat mencapai penstabilan yang substansial dari turun naiknya suasana hati mereka dan mampu memimpin kehidupan yang normal. Perawatan dari penyakit bipolar termasuk obat-obat yang dikenal sebagai "mood stabilizers (penstabil-penstabil suasana hati)". Lithium (Eskalith, Lithobid) adalah penstabil suasana hati yang paling umum diresepkan untuk orang-orang dengan penyakit bipolar, namun beberapa obat-obat anticonvulsant, termasuk valproate (Depakote) atau carbamazepine (Tegretol), juga dapat mempunyai efek-efek penstabil suasana hati dan mungkin digunakan pada perawatan dari penyakit bipolar.
DIFINISI GANGGAUAN BIPOLAR
Gangguan bipolar atau Bipolar Disorder atau dikenal juga sebagai Manic. Arti bipolar disorder secara umum adalah kelainan mood yang dialami seseorang, di mana perubahan moodnya bisa berganti secara cepat. Terkadang bisa sangat bahagia tapi tiba-tiba bisa nge-drop, tanpa ada alasan yg spesifik.Menurut pakar psikologi, Barbara D.Ingersol, Ph.D dan Sam Goldstain, gangguan bipolar adalah suatu kondisi yang dicirikan oleh fase depresi yang kemudian diganti dengan fase mania manakala suasana hati dan energi sangat meningkat. Begitu meningkatnya hingga melampaui batas normal suasana hati yang baik. atau bisa juga sebaliknya, dari periode mania kemudian diganti menjadi periode depresi secara tiba-tiba.
Penyakit bipolar, juga dikenal sebagai penyakit manic-depressive, adalah penyakit otak yang menyebabkan perubahan-perubahan yang tidak biasa pada suasana hati, energi, tingkat-tingkat aktivitas, dan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas harian. Gejala-gejala dari penyakit bipolar adalah parah. Mereka berbeda dari naik dan turun yang normal yang setiap orang melaluinya dari waktu ke waktu. Gejala-gejala penyakit bipolar dapat berakibat pada hubungan-hubungan yang rusak, pencapaian sekolah atau pekerjaan yang buruk, dan bahkan bunuh diri.
Namun penyakit bipolar dapat dirawat, dan orang-orang dengan penyakit ini dapat menjalankan kehidupan-kehidupan yang penuh dan produktif. Penyakit bipolar seringkali berkembang pada akhir masa remaja seseorang atau pada tahun-tahun awal masa dewasa.
Paling sedikit setengah dari semua kasus-kasus mulai sebelum umur 25 tahun. Beberapa orang-orang mempunyai gejala-gejala pertama mereka selama masa kanak-kanak, sementara yang lain-lain mungkin mengembangkan gejala-gejala jauh kemudian dalam kehidupannya. Penyakit bipolar tidak mudah untuk disoroti ketika ia mulai. Gejala-gejala mungkin nampak seperti persoalan-persoalan yang terpisah, tidak dikenali sebagai bagian-bagian dari persoalan yang besar.
 Beberapa orang-orang menderita bertahun-tahun sebelum mereka didiagnosa dan dirawat secara benar. Seperti diabetes atau penyakit jantung, penyakit bipolar adalah penyakit jangka panjang yang harus dikelola secara hati-hati sepanjag kehidupan seseorang.



CIRI-CIRI/GEJALA DAN JENIS –JENIS BIPOLAR
Ciri – Ciri / gejala
I. Fase manik:
- suasana hati gembira berlebihan
- aktivitas meningkat, ekspansif
- mudah tersinggung
- hiperaktivitas
- berbicara sangat cepat
- ide meloncat-loncat
- kebutuhan tidur berkurang
- harga diri berlebihan
- perhatian mudah teralihkan
- memiliki pertimbangan buruk
- sikap berlebihan (misalnya gila belanja dan seks tidak aman)
II. Fase depresi;
- perasaan murung atau sedih
- mudah menangis
- minat dan kegembiraan hilang
- kelelahan
- nafsu makan terganggu
- gangguan tidur (insomnia atau hipersomnia)
- putus asa
- pesimis, merasa tidak berguna
- sulit konsentrasi
- berat badan naik/turun secara bermakna
- merasa bersalah
- sering berpikir untuk bunuh diri.


Jenis-jenis Bipolar
  • Depression – Pada episode ini umumnya para penderita mengalami kesedihan yang berkepanjangan, mereka bahkan tidak ingin bangun dari tempat tidur, makan atau menikmati kegiatan sehari-hari seperti biasanya.
  • Mania – Episode ini merupakan sisi lain dari Bipolar Disorder. Mania biasanya diawali dengan good feeling yang “sangat tinggi”. Membuat si penderita mudah marah dan tersinggung, sehingga seringkali berbuat sesuatu yang resikonya sangat tinggi (cenderung melakukan hal-hal yg dpt membahayakan jiwa si penderita).
  • Hypomania – adalah episode yang lebih ringan dari episode Mania. Pada episode ini penderita mempunyai good feeling dengan melakukan berbagai macam aktifitas, tetapi “good feeling” ini dapat setiap saat berubah menjadi mania atau depression. Hypomania biasanya berbeda dari Mania karena tidak menyangkut soal pekerjaan ataupun keluarga dan cenderung sulit terdeteksi.
  • Mixed Mood – Penderita mengalami episode Mania dan Depression berulang-ulang, terkadang dalam waktu yang bersamaan
PENYEBAB BIPOLAR
Semua kemungkinan penyebab gangguan bipolar, baru merupakan dugaan dan masih dalam proses penelitian lebih lanjut. Jadi penyebab gangguan bipolar yang sebenarnya belum diketahui dengan pa Namun, mulai dari kondisi ini belum diteliti, dan kenapa dan kapan tepatnya gangguan ini berangkat masih belum diketahui. Beberapa faktor di lingkungan sekitarnya dapat menyebabkan masalah seperti itu juga. Ini bisa menjadi kematian di keluarga, stres, trauma dan perceraian bisa menjadi beberapa alasan yang menyebabkan masalah tersebut. Pada wanita, gangguan ini terhubung dengan siklus menstruasi.
1. Abnormalitas bagian-bagian otak
Dari penelitian pada penderita gangguan bipolar berusia dewasa, diketahui bahwa pada pemeriksaan MRI didapatkan pembesaran ventrikel ke-3. Pemeriksaan PET (Positron Emission Tomographic) menunjukan penurunan aktivitas metabolisme pada bagian otak depan (lobus frontalis). Hingga saat ini dikatakan bahwa abnormalitas yang terjadi pada bagian-bagian otak tersebut akan menyebabkan gangguan dalam pengaturan mood dan fungsi kognitif.

2. Serangan Virus
Gangguan bipolar belum diketahui secara pasti penyebabnya, tetapi diduga berkaitan dengan virus yang menyerang otak. Serangan virus berlangsung semasa janin dalam kandungan atau di tahun pertama sesudah lahir. Namun baru 15-20 tahun kemudian mewujud menjadi bipolar. “Itu karena pada usia 15 tahun kelenjar timus dan pinealis yang mengeluarkan hormone yang dapat mencegah gangguan psikiatrik hebat sudah berkurang menjadi 50 persen,” papar Dr. Yul Iskandar, Sp.KJ, Ph.D, psikiater dari RS Khusus Darma Graha.

3. Ketidakseimbangan “Key chemicals”
Bipolar Disorder itu disebabkan oleh ketidakseimbangan "key chemicals" (cairan kimia utama) dalam otak kita. Otak kita itu terdiri dari bermilyar-milyar sel-sel syaraf yang secara konstan menyampaikan informasi dari sel satu ke sel lainnya. Untuk menjaga kestabilan arus informasi dari sel ke sel maka otak menghasilkan cairan yang dinamakan "neurotrnasmitters". 2 Neurotransmitters yang diperlukan otak untuk berfungsi adalah dopamine dan serotonin, yang memegang peranan penting dalam kesehatan emosional.Para pakar yakin bahwa jika salah satu dari susunan neurotransmitters itu nggak seimbang maka akan mengakibatkan Bipolar Disorder. Contohnya, kalo terlalu tinggi jumlah dopamine pada bagian tertentu dalam otak kita, maka akan menimbulkan gejala halusinasi, tetapi bila dopamine terlalu rendah, maka akan menimbulkan gejala kurangnya energi.

4. Faktor Genetik
Gen bawaan ternyata bisa menjadi faktor umum penyebab bipolar disorder. Seseorang yang lahir dari orang tua yang salah-satunya merupakan pengidap bipolar disorder memiliki resiko mengidap penyakit yang sama sebesar 15%-30% dan bila kedua orang tuanya mengidap bipolar disorder, maka 50%-75%. anak-anaknya beresiko mengidap bipolar disorder.Namun gen-gen bukan satu-satunya faktor risiko untuk penyakit bipolar. Studi-studi dari kembar-kembar yang identis telah menunjukan bahwa kembar dari seseorang dengan penyakit bipolar tidak selalu mengembangkan penyakit. Ini adalah penting karena kembar-kembar yang identis berbagi semua gen-gen yang sama. Hasil-hasil studi menyarankan faktor-faktor selain gen-gen juga berpengaruh.


FAKTOR RESIKO
Ras
Tidak ada kelompok ras tertentu yang memiliki predileksi kecenderungan terjadinya gangguan ini. Namun, berdasarkan sejarah kejadian yang ada, para klinisi menyatakan bahwa kecenderungan tersering dari gangguan ini terjadi pada populasi Afrika-Amerika.
Jenis Kelamin
Angka kejadian dari BP I, sama pada kedua jenis kelamin, namun rapid-cycling bipolar disorder (gangguan bipolar dengan 4 atau lebih episode dalam setahun) lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Insiden BP II lebih tinggi pada wanita daripada pria.
Usia
Usia individu yang mengalami gangguan bipolar ini bervariasi cukup besar. Rentang usia dari keduanya, BP I dan BP II adalah antara anak-anak hingga 50 tahun, dengan perkiraan rata-rata usia 21 tahun. Kasus ini terbanyak pada usia 15 – 19 tahun, dan rentang usia terbanyak kedua adalah pada usia 20 – 24 tahun. Sebagian penderita yang didiagnosa dengan depresi hebat berulang mungkin saja juga mengalami gangguan bipolar dan baru berkembang mengalami episode manic yang pertama saat usia mereka lebih dari 50 tahun. Mereka mungkin memiliki riwayat keluarga yang juga menderita gangguan bipolar. Sebagian besar penderita dengan onset manic pada usia lebih dari 50 tahun harus dilakukan penelusuran terhadap adanya gangguan neurologis seperti penyakit serebrovaskular. Gangguan bipolar juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi genetik, biokimiawi, psikodinamik dan lingkungan.
Genetik
Gangguan bipolar, terutama BP I, memiliki komponen genetik utama. Bukti yang mengindikasikan adanya peran dari faktor genetik dari gangguan bipolar terdapat beberapa bentuk, antara lain :
• Hubungan keluarga inti dengan orang yang menderita BP I diperkirakan 7 kali lebih sering mengalami BP I dibandingkan populasi umum. Perlu digaris-bawahi, keturunan dari orang tua yang menderita gangguan bipolar memiliki kemungkinan 50 % menderita gangguan psikiatrik lain.
Penelitian pada orang yang kembar menunjukkan hubungan 33 – 90 % menderita BP I dari saudara kembar yang identik.
• Penelitian pada keluarga adopsi, membuktikan bahwa lingkungan umum bukanlah satu-satunya faktor yang membuat gangguan bipolar terjadi dalam keluarga. Anak dengan hubungan biologis pada orang tua yang menderita BP I atau gangguan depresif hebat memiliki resiko yang lebih tinggi dari perkembangan gangguan afektif, bahkan meskipun mereka bertempat tinggal dan dibesarkan oleh orang tua yang mengadopsi dan tidak menderita gangguan.
• Cardno dan kawan-kawan di London menunjukkan bahwa skizofrenia, skizoafektif, dan sindrom manic berbagi faktor resiko genetik dan genetik yang bertanggung jawab terhadap gangguan skizoafektif seluruhnya secara umum juga terdapat pada dua sindrom yang lain tadi. Penemuan ini menimbulkan dugaan suatu genetik tersendiri bertanggungjawab pada psikosis berbagi dengan gangguan mood dan skizofrenia. Tsuang dan kawan-kawan mengindikasikan adanya kontribusi genetik pada MDI dengan gambaran psikotik, serta menunjukkan adanya hubungan antara skizofrenia dan gangguan bipolar.
• Studi tentang ekspresi gen juga menunjukkan orang dengan gangguan bipolar, depresif berat, dan skizofrenia mengalami penurunan yang sama dalam ekspresi dari gen hubungan oligodendrosit-myelin dan abnormalitas substansia nigra pada bermacam daerah otak.
Biokimiawi
1. Multipel jalur biokimiawi mungkin berperan pada gangguan bipolar, hal ini yang menyebabkan sulitnya mendeteksi suatu abnormalitas tertentu.
2. Beberapa neurotransmitter berhubungan dengan gangguan ini, sebagian besar didasrkan pada respon pasien terhadap agen-agen psikoaktif.
3. Sejumlah bukti menunjukkan bahwa terdapat kaitan antara glutamat dengan gangguan bipolar dan depresi berat. Studi postmortem dari lobus frontal dengan kedua gangguan menunjukkan peningkatan level glutamat.
4. Obat tekanan darah reserpin, yang menghabiskan/mendeplesikan katekolamin pada saraf terminal telah tercatat menyebabkan depresi. Ini berpedoman pada hipotesis katekolamin yang berpegang pada peningkatan epinefrin dan norepinefrin menyebabkan manic dan penurunan epinefrin dan norepinefrin menyebabkan depresi.
5. Obat-obatan seperti kokain, yang juga bekerja pada sistem neurotransmitter ini mengeksaserbasi terjadinya manic. Agen lain yang dapat mengeksaserbasi manic termasuk L-dopa, yang menginhibisi reuptake dopamin dan serotonin.
6. Gangguan dan ketidakseimbangan hormonal dari aksis hipotalamus-pituitari-adrenal, menggangu homeostasis dan menimbulkan respon stres yang juga berperan pada gambaran klinis gangguan bipolar
7. Antidepresan trisiklik dapat memicu terjadinya manic.
Psikodinamik
• Banyak praktisi melihat dinamika MDI sebagai suatu hal yang berhubungan melalui suatu jalur.
• Mereka melihat depresi sebagai manifestasi dari suatu kehilangan, contohnya hilangnya pegertian terhadap diri dan adanya perasaan harga diri rendah. Oleh karena itu, manik timbul sebagai mekanisme defens dalam melawan rasa depresi (Melanie Klein)
Lingkungan
•  Pada beberapa kejadian, suatu siklus hidup mungkin berkaitan langsung dengan stres eksternal atau tekanan eksternal yang dapat memperburuk berulangnya gangguan pada beberapa kasus yang memang sudah memiliki predisposisi genetik atau biokimiawi.
• Kehamilan merupakan stres tertentu bagi wanita dengan riwayat MDI dan meningkatkan kemungkinan psikosis postpartum. Contoh lain, oleh karena sifat pekerjaan, beberapa orang memiliki periode permintaan yang tinggi diikuti periode kebutuhan yang sedikit. Hal ini didapati pada seorang petani, dimana ia akan sangat sibuk pada musim semi, panas, dan gugur, namun selama musim dingin akan relatif inaktif kecuali membersihkan salju, sehingga ia akan tampak manic pada hampir sepanjang tahun dan tenang selama musim dingin. Hal ini menunjukkan lingkungan juga dapat berpengaruh terhadap keadaan psikiatri seseorang




TRETMENT GANGGUAN BIPOLAR
1. Terapi Non Farmakologi
·         Konsultasi
Suatu konsultasi dengan seorang psikiater atau psikofarmakologis selalu sesuai bila penderita tidak menunjukkan respon terhadap terapi konvensional dan medikasi.
·         Diet
Terkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), tidak ada diet khusus yang dianjurkan. Penderita dianjurkan untuk tidak merubah asupan garam, karena peningkatan asupan garam membuat kadar litium serum menurun dan menurunkan efikasinya, sedangkan mengurangi asupan garam dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas.
·         Aktivitas
Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan olahraga/aktivitas fisik. Jadwal aktivitas fisik yang reguler harus dibuat. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang reguler meupakan kunci untuk bertahan dari penyakit ini. Namun, bila aktivitas fisik ini berlebihan dengan peningkatan perspirasi dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas litium.
·         Edukasi Penderita
Pengobatan penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi penderita awal dan lanjutan. Tujuan edukasi harus diarahkan tidak hanya langsung pada penderita, namun juga melalui keluarga dan sistem disekitarnya. Lagipula, fakta menunjukkan peningkatan dari tujuan edukasi ini, tidak hanya meningkatkan ketahanan dan pengetahuan mereka tentang penyakit, namun juga kualitas hidupnya.
·         Pertama, penjelasan biologis tentang penyakit harus jelas dan benar. Hal ini mengurangi perasaan bersalah dan mempromosikan pengobatan yang adekuat.
·         Kedua, memberi informasi tentang bagaimana cara memonitor penyakit terkait apresiasi tanda awal, pemunculan kembali, dan gejala. Pengenalan terhadap adanya perubahan memudahkan langkah-langkah pencegahan yang baik.
·         Kelompok pengobatan yang adekuat tinggal suatu bagian yang penting dari perawatan dan edukasi.    
·          Edukasi juga harus memperhatikan bahaya dari stresor. Membantu identifikasi individu dan bekerja dengan stresor yang ada menyediakan aspek kritis penderita dan kewaspadaan keluarga.
·         Akhirnya, informasikan kepada penderita tentang kekambuhan dalam konteks gangguan.
·         Cerita-cerita tentang individu membantu penderita dan keluarga, terutama cerita tentang individu dengan MDI dapat membantu penderita untuk berusaha menghadapi tantangan dari perspektif lain.
2. Terapi Farmakologi untuk Gangguan bipolar
Tamoxifen sebagai obat golongan SERM (Selective Estrogen Receptor Modulator), akhir-akhir ini mulai banyak dipublikasikan efeknya sebagai neuroprotektor karena telah terbukti secara laboratorium dapat menurunkan ukuran infark secara sementara, serta dapat secara permanen untuk melakukan reperfusi dari iskemia yang terjadi di otak, selain itu beberapa saat yang lalu juga telah diketahui bahwa Tamoxifen mempunyai efek terhadap gangguan bipolar tapi mekanisme kerjanya tidak diketahui secara pasti.Hingga akhirnya publikasi dari penelitian terbaru terhadap Tamoxifen untuk pasien gangguan bipolar kembali lagi muncul di Archives Journal of General Psychiatry, edisi bulan Maret 2008 yang lalu, dimana disebutkan bahwa Tamoxifen mempunyai hubungan terhadap aktivitas dari protein kinase C (PKC) yang mungkin terdapat pada pasien mania atau bisa dikatakan bahwa Tamoxifen disebut sebagai obat golongan Penghambat PKC.Untuk membuktikan antimania serta efikasi dari Tamoxifen sebuah Penghambat PKC telah dilakukan penelitian dengan metide acak buta ganda kontrol plasebo, pada 55 pasien yang usianya antara 18 tahun sampai 60 tahun dimana menggunakan pasien dirawat di salah satu unit psikiatri di Izmir, Turki. Semua pasien yang ikut serta dalam penelitian ini didiagnosis bipolar berdasarkan kriteria pada DSM-IV.Setiap pasien dilakukan intervensi terhadap Tamoxifen atau diberikan plasebo yang dibuat sama persis dengan obatnya sampai lamanya 3 minggu, pasien juga diberikan tambahan Lorazepam 5 mg/hari.Penilaian utama penelitian ini adalah dari parameter skala YMRS dan kemudian adaah hasil penilaian parameter dari skala CGI (Clinical Global Impressions-Mania scores), dimana tiap minggu scoring depresi dan psikosis dinilai dan diikuti dengan penambahan Lorazepam. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa Tamoxifen memperlihatkan efeknya sebagai antimania dan dapat ditoleransi oleh pasien. Dari hasil temuan ini diperlukan klarifikasi lebih lanjut mengenai hubungannya dengan PKC pada patofisiologi gangguan bipolar dan perkembangan dari obat anti PKC sebagai obat yang potensial sebagai antimania atau sebagai stabilizer mood.
3. Terapi Alamiah penanggulangan gangguan Bipolar
Aspek Fisik
Secara sederhana bisa dijelaskan, olahraga apa pun jenisnya akan membuat tubuh  bugar dan sehat. Otot-otot tubuh lebih lentur dan kuat, sirkulasi darah dan sistem metabolisme tubuh lebih lancar, serta organ-organ tubuh lebih sehat dan terawat. Termasuk salah satu organ tubuh paling vital yiatu otak.Saat berada di lapangan, bukan hanya fisik anda yang aktif bergerak mengikuti arah pergerakan bola, otak  juga dirangsang untuk berpikir dan mengambil keputusan dengan cepat, tepat dan akurat. Seorang pemain yang terlatih bukan hanya menguasai teknik permainan, tapi juga harus menguasai ‘taktik’ permainan. Ini membutuhkan kerja otak yaitu kecerdasan dan kecerdikan. Gerak otot dan otak yang dilakukan dalam satu set saja bisa sampai puluhan bahkan mungkin ratusan kali. Berapa kali dalam sehari, seminggu atau sebulan. Dan semua itu anda lakukan dengan penuh gairah, semangat dan senang hati. Gerakan-gerakan otot dan otak secara intensif, teratur dan terus-menerus tersebut, selain membuat tubuh lebih sehat dan bugar, bukan tidak mungkin, mampu menetralisir ketidakseimbangan biokimia dalam otak yang merupakan salah satu kemungkinan faktor penyebab gangguan bipolar.
Aspek Mental
Dalam permainan apa pun termasuk bola voli, selain harus memiliki kemampuan fisik dan teknik prima, sebagai seorang pemain,  juga harus memiliki mental yang tangguh. Seorang pemain yang bermental “baja” akan bermain dengan gigih, ulet dan pantang menyerah sampai “detik-detik terakhir” permainan. Dalam situasi kritis, kekuatan mental pemain dan tim secara keseluruhan akan sangat menentukan kalah menangnya sebuah tim.Sebagai seorang pemain secara individu, sekaligus sebagai bagian dari tim,  akan dilatih dan melatih mental , agar bisa bersikap tenang di lapangan, mampu mengendalikan emosi, mampu berpikir jernih dan akhirnya mampu mengambil keputusan yang tepat dan akurat disaat-saat paling kritis sekalipun.Saat sedang berlaga di arena,  bisa mengekspresikan diri (kekecewaan, kemarahan, kepuasan atau kegembiraan) dengan lepas dan lugas. Saat  meloncat lalu memukul bola dengan keras, sebenarnya  bukan hanya melepaskan energi fisik, tetapi sekaligus melepaskan energi psikis.Sebagai seorang pemain,  harus mampu mengendalikan diri dan mengontrol emosi saat berada di lapangan, agar tidak mudah terpancing oleh cemoohan, ejekan atau provokasi pihak lawan. Tetap tenang dan tampil elegan di lapangan. Kematangan mental seorang pemain dan sebuah tim, akan tampak dari bagaimana caranya menyikapi kemenangan maupun kekalahan. Tidak meluapkan kegembiraan secara berlebihan ketika menang, dan sebaliknya mampu meredam kekecewaan atau kesedihan ketika kalah.Latihan-latihan fisik dan mental serta pengalaman-pengalaman yang  rasakan di arena pertandingan, akan berpengaruh positif terhadap kondisi mental .  akan lebih mampu mengendalikan emosi saat berada di dalam maupun di luar lapangan. Saat  mengekspresikan kegembiraan, kepuasan, kekecewaan, kekesalan bahkan kemarahan sebenarnya anda sedang membebaskan diri dari tekanan-tekanan mental yang selama ini membebani pikiran . Mengikis pikiran-pikiran negatif dan memupuk pikiran-pikiran positif. Kegembiran, kebanggaan dan kepuasan batin di arena pertandingan akan mendorong untuk lebih bangga dan menghargai diri sendiri dan orang lain. Menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Percaya pada kemampuan sendiri dan tidak memandang rendah diri sendiri dan orang lain.
Aspek Sosial
Di arena latihan maupun pertandingan, akan berinteraksi dengan sesama pemain, lawan main, pelatih, wasit dan para penonton atau suporter (suporter tim dan suporter tim lawan). Dalam olahraga permainan beregu seperti bola voli, tidak hanya dilatih dan melatih kemampuan diri sendiri, tetapi berlatih bersama anggota tim lain. Berlatih teknik dan taktik permainan, serta berlatih kerjasama dan kekompakan tim. Tim yang tangguh bukan hanya menonjolkan kemampuan individu pemainnya, tapi menunjukan kerjasama antar pemain yang kompak dan solid. Di arena pertandingan, dua tim saling berhadapan sebagai lawan. Demikian juga suporter masing-masing tim, berada dalam posisi yang saling berhadapan. Tak jarang, di lapangan,kita dan lawan anda saling gertak dan saling memprovokasi, untuk menjatuhkan mental dan mengacaukan irama permainan lawan. Di sinilah kemampuan fisik, teknik dan ketangguhan mental  diuji.Namun semua itu hanyalah permainan. Setelah wasit meniup peluit tanda pertandingan usai, saling berjabat tangan dan saling memeluk dengan kehangatan dan suasana persahabatan. Yang menang mengekspresikan kemenangannya dengan wajar dan etis, sedangkan yang kalah menerimanya dengan jiwa besar dan lapang dada. Saat pertandingan usai, ketegangan mencair, lawan menjadi kawan, musuh menjadi sahabat. Ketika jumpa di luar arena,  saling menyapa dengan senyum dan kehangatan. Sungguh sebuah interaksi sosial yang manis dan menyegarkan.
Lalu, apa kaitan dan pengaruhnya interaksi di arena olahraga dengan proses penyembuhan derita jiwa anda?
Saat anda berada di lapangan, bersama rekan satu tim, berhadapan dengan lawan main dan dikelilingi oleh para suporter, anda akan merasa diterima dan diakui sebagai seorang pemain dan sebagai bagian dari permainan itu sendiri. Apalagi saat tim anda memenangkan pertandingan, pemain, oficial, pelatih dan suporter akan memberi selamat dan mengelu-elukan anda. Anda merasa bangga dan puas telah memberi kebahagiaan kepada seluruh anggota tim dan suporter. Rasa berguna, rasa bangga, rasa diterima dan diakui, akan mengikis bahkan mungkin menghapus rasa kesepian dan keterpencilan sosial anda. Disaat yang sama, kebahagiaan, kepuasan batin serta kemampuan anda berkomunikasi yang semakin baik, seiring bertambah luasnya lingkungan pergaulan anda—tentunya teman dan kenalan anda semakin banyak— akan meningkatkan kepercayan diri anda. Dan seperti ditulis oleh David D. Burns dalam bukunya “Mengapa Kesepian” (terjemahan Bahasa Indonesia), “Sekali seseorang mulai merasa lebih percaya diri, orang lain akan merasa (menilai) lebih baik. Anda akan masuk siklus suasana hati yang positif. Dan meningkatnya harga diri berarti membuka peluang dalam sukses sosial yang lebih besar.”Itulah, tiga aspek (fisik, mental dan sosial) dari aktivitas olahraga yang berpengaruh terhadap pemulihan kondisi kejiwaan anda. Seperti yang aku alami sendiri, aktivitas olahraga yang aku lakukan dengan senang hati dan penuh gairah, ternyata berpengaruh besar dalam mempercepat proses pemulihan kesehatan mentalku.
Aktivitas olah raga tersebut cukup anda lakukan 1-2 jam sehari, atau disesuaikan dengan kondisi fisik dan psikis anda sendiri. Lakukan aktivitas olah raga ini secara konsisten dan disiplin minimal selama tiga bulan. Setelah itu anda bisa mengevalusi sendiri hasilnya, apakah sesuai harapan anda atau tidak. Namun paling tidak secara fisik anda lebih sehat dan segar.
4. terapi Keluarga untuk  Gangguan Bipolar
Terapi keluarga yang berfokus pada keluarga dapat meningkatkan hubungan di antara pasien dengan anggota keluarga.Sekitar 10 juta orang di Amerika Serikat menderita gangguan bipolar (penyakit gangguan emosi), dan keluarga dan teman-teman mereka juga terpengaruh ketika mereka berjuang untuk mengatasi dampak-dampak yang melemahkan orang yang mereka cintai. Banyak pendekatan yang digunakan untuk mengobati gangguan bipolar, termasuk beberapa jenis psikoterapi dan juga obat-obatan. Salah satu terapi bipolar yang disebut terapi yang berfokus pada keluarga atau FFT (Family-focused therapy) telah terbukti berhasil untuk banyak penderita bipolar, membantu mereka menjadi lebih stabil dan mengurangi kemungkinan kambuh.
Dikembangkan oleh 2 ahli psikolog, pengobatan terapi bipolar yang berdasarkan dinamika keluarga ini masuk akal, mengingat bahwa perawat utama dari mereka yang menderita gangguan bipolar berada pada resiko yang lebih besar akan mengembangkan penyakit atau depresi dibandingkan dengan populasi umum. Beberapa penelitian menunjukkan manfaat-manfaat FFT pada anggota-anggota keluarga yang terlibat dalam pengobatan psikoterapi dan juga penderitanya.Sepanjang sesi FFT, penderita dan anggota keluarganya bersama-sama bertemu dengan seorang terapi yang dilatih untuk mengobati gangguan bipolar dengan jenis psikoterapi khusus ini. Salah satu dari tujuan FFT adalah untuk meningkatkan hubungan keluarga, yang mana diyakini dapat mendukung hasil pengobatan yang lebih baik.
Bagaimana terapi keluarga membantu
Selama terapi keluarga, para terapi mendidik para anggota keluarga mengenai gangguan bipolar dan masalah-masalah yang berkaitan, seperti kelelahan yang dialami oleh banyak anggota keluarga dan perawat lainnya saat menangani orang yang mereka kasihi yang menderita bipolar. Teknik psikoterapi ini ditujukan untuk memberikan para keluarga kemampuan komunikasi yang lebih baik sehingga mereka dapat meminimalis stres dan bekerja bersama-sama dalam memecahkan masalah, tak peduli apakah masalah-masalah tersebut berhubungan langsung atau tidak dengan gangguan bipolar.
Sesi terapi bipolar yang berfokus pada keluarga mengajarkan para partispian bagaimana untuk:
1. Mengidentifikasi gejala gangguan bipolar dan mengenali tanda-tanda akan kambuh kembali.
 2. Menggunakan ketrampilan komunikasi yang lebih baik dalam rangka untuk terlibat dengan lebih efektif dan untuk menyelesaikan konflik-konflik dengan perasaan negatif yang lebih sedikit.
3. Menggunakan ketrampilan memecahkan masalah, termasuk strategi manajemen yang khusus dibuat untuk membantu penderita gangguan bipolar.
4. Mengambil langkah-langkah konstruktif dan tindakan saat penderita tampaknya memiliki kesulitan-kesulitan yang signifikan dengan penyakit ini.
Efektifitas terapi keluarga
Penelitian-penelitian telah menunjukkan bahwa FFT dapat membantu para penderita menghindari kambuh dan sembuh dari bipolar dengan lebih cepat daripada tanpa intervensi terapi. Terapi keluarga lebih efektif dibandingkan dengan beberapa bentuk psikoterapi, seperti terapi prilaku kognitif dan kelompok terapi, dalam mencegah kambuh kembali, terutama ketika FFT dimulai setelah babak bipolar akut.Para penderita yang menunjukkan lebih banyak gejala depresi gangguan bipolar lebih cenderung terbantu oleh FFT dibandingkan dengan mereka yang menderita gejala mania, yang lebih cenderung merespon terapi prilaku kognitif. Meskipun demikian, semua bentuk dari terapi ini memiliki keterbatasan. Apapun jenis terapi yang digunakan untuk mengobati gangguan bipolar, tidak ada obat untuk penyakit ini, dan bahkan mereka yang pengobatannya berhasil akan terus mengalami perubahan suasana hati yang serius dan tetap mengalami gejala gangguan bipolar. Pengobatan perlu dilakukan terus menerus.
5. Terapi Bipolar dengan Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an dengan khusuk (bagi seorang muslim) memang bisa menjadi salah satu obat untuk mengatasi problem psikologis. Ada ketenangan, ketenteraman jiwa dan keyakinan akan keagungan Tuhan saat kita membacakan firman Tuhan yang tertulis dalam kitab suci. Apalagi jika kita bisa memahami makna ayat-ayat tersebut, kita akan lebih bisa meresapi dan meyakini kebesaran dan kemahakuasaannya. ayat-ayat Al-Qur’an bukan hanya tertulis dalam kitab suci, (penafsiran) ayat-ayat Al-Qur’an juga tertulis dalam berbagai kitab karya para ulama, ahli filsafat, ilmuwan, negarawan bahkan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an bisa kita temukan dalam karya-karya ilmuwan non-muslim (yang jujur dan netral tentunya). Bukankah banyak ilmuwan non-muslim yang mempelajari karya-karya ulama dan ilmuwan muslim (karya klasik maupun modern). Jadi ,penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an bisa dibaca dan dipelajari dari kitab dan buku karya para penulis muslim maupun non muslim, selama itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Bahkan ayat-ayat Al-Qur’an secara tersirat bisa dibaca dari tanda-tanda alam dan lingkungan di sekitar kita. Alam sekitar kita adalah bukti kemahakuasaan Tuhan dan kita pun sebagai manusia dianjurkan untuk membaca (mempelajari) alam sebagai salah satu mahluk ciptaanya.
PENELITIAN BAIK YANG TERBARU DAN LAMA MENGENAI GANGGUAN BIPOLAR
1. Sebuah penelitian terbaru menyimpulkan, saat orangtua memiliki kelainan bipolar, maka anak-anak mereka berisiko terkena kelainan kejiwaan juga. Dr Boris Birmaher dan rekan-rekannya dari University of Pittsburgh Medical Center yang menuliskan laporan ini dalam Archives of General Psychiatry. Mereka mengungkapkan, hasil penelitiannya sebagai indikasi perlunya identifikasi dan perawatan dini bagi anak-anak yang orangtuanya mengalami gangguan bipolar.Kelainan bipolar yang dikenal sebagai depresi kejiwaan membuat penderitanya mengalami perubahan suasana hati yang sangat berbeda. Terkadang mengalami depresi yang ekstrem sehingga tidak bisa melakukan apa-apa. Tak jarang penderitanya merasakan kegembiraan yang meluap-luap.Hasil penelitian dari The Pittsburgh Bipolar Offspring Study diujicobakan pada 388 anak dari 233 orangtua yang memiliki kelainan bipolar. Sementara itu, 251 anak lainnya dari 143 orangtua yang tidak memiliki kelainan bipolar. Hasilnya menunjukkan bahwa anak dengan orangtua yang memiliki kelainan bipolar berisiko 13 kali lebih besar terkena penyakit yang sama seperti orangtua mereka dibandingkan anak yang orangtuanya tidak memiliki kelainan bipolar. Secara bersamaan, memiliki ayah-bunda dengan kelainan bipolar menghalangi si kecil untuk memiliki kelainan suasana hati lima kali lipat lebih besar.
Penelitian menyebutkan, sepuluh keluarga yang diteliti, kedua orangtuanya mengalami kelainan bipolar. Anak-anak yang kedua orangtuanya mengalami kelainan bipolar ternyata berisiko 3,6 kali lebih tinggi terkena penyakit yang sama dibandingkan yang salah satu orangtuanya mengalami kelainan bipolar. Lebih dari tiga perempat anak yang diteliti mengalami kelainan bipolar mereka yang pertama sebelum menginjak usia 12 tahun."Lebih dari setengah anakanak yang memiliki orangtua kelainan bipolar menyatakan belum didiagnosis memiliki penyakit kejiwaan. Ini merupakan kesempatan dan kebutuhan yang besar untuk melakukan pencegahan utama terhadap populasi yang berisiko tinggi ini," tandas Birmaher.Sehubungan penelitian tersebut, psikiater dari Psychosomatic Clinic Rumah Sakit Omni Intenational Hospital Alam Sutera, Tangerang, dr Andri, SpKJ berpendapat, bipolar sebenarnya bukan tertular, melainkan memang gangguan yang termasuk gangguan mood, gangguan jiwa yang punya faktor genetik kuat."Biasanya ada di antara keturunan sedarah yang mengalami ini dan hal itu sudah diteliti bahwa memang gangguan mood sangat berkaitan dengan faktor genetik dan keturunan," papar anggota Divisi Kesehatan Jiwa, Fakultas Kedokteran, UKRIDA.
Karena itu, tidak salah kalau seorang psikiater pasti akan menanyakan riwayat keluarga yang mempunyai keluhan yang sama bila pasien yang datang ke tempat praktiknya seorang pasien bipolar, gangguan depresi, ataupun gangguan distimia. Ketiganya merupakan gangguan mood.Gangguan bipolar dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu gangguan bipolar I, gangguan bipolar II, gangguan bipolar campuran, dan siklotimik. Gangguan bipolar I yaitu gangguan bipolar yang paling umum terjadi. Kondisi ini dihubungkan dengan satu atau lebih episode manic. Gangguan bipolar I lebih banyak episode manik daripada depresi.Lain halnya dengan gangguan bipolar II, gangguan ini ialah kondisi yang diasosiasikan dengan satu atau lebih episode depresi. Pada gangguan tipe tersebut lebih banyak mengalami episode depresi, sedangkan untuk gangguan bipolar campuran antara episode depresi dan episode manik tidak ada aturannya. Gangguan ini bisa muncul episode manik terlebih dahulu atau sebaliknya, episode depresi dahulu.Sedangkan tipe siklotimik, perubahan antara episode depresi dan episode manik berubah cepat sekali. Perubahan mood yang tiba-tiba menyerang si penderita.
2. Di AS, diperkirakan sebuah 17.400.000 orang menderita semacam gangguan depresi. Itu berarti satu dari tujuh orang akan sangat memiliki semacam masalah gangguan kejiwaan bipolar. Adalah nama yang diberikan kepada masalah kejiwaan umum yang kita tahu dengan nama depresi, manik depresi, gangguan mood dan gangguan afektif bipolar. Dalam lingkup gangguan bipolar ada setidaknya 14 varian itu. Mereka diklasifikasikan sebagai bipolar I, bipolar II, dan gangguan cyclothmic dan beberapa lagi.
3. Seorang dokter di Amerika memiliki pasien yang hobi memberi mobil baru pada setiap orang yang datang ke dealer mobilnya. Tindakan murah hati yang dilakukan orang itu ternyata bukan sekedar murah hati, tapi sudah jadi penyakit bipolar maniak. Kenneth Robbins, MD adalah psikiater yang memiliki pasien dengan penyakit bipolar maniak tersebut. Menurutnya, sang pasien adalah seorang pemilik dealer mobil yang cukup sukses. Uniknya, setiap kali ia panik, ia memberikan mobil pada siapa saja yang berada di dealernya.“Pasien yang saya tangani saat ini sangat murah hati. Ia punya dealer mobil dan setiap kali panik, ia memberikan mobil-mobilnya pada orang-orang yang ada di dealernya atau memberi uang, cek, bahkan ketika ia tidak memiliki uang lagi,” ujar Kenneth Robbins, MD dari University of Wisconsin-Madison seperti dikutip dari Health, Kamis (15/10/2009). Robbins mengatakan bahwa gejala yang dialami pasiennya sudah termasuk ke dalam penyakit bipolar maniak. “Ia terlalu murah hati untuk kategori manusia normal, tidak bisa berpikir logis, merasa terobsesi dan emosinya tidak stabil. Orang dengan penyakit ini juga merasa tidak perlu tidur dan selalu berenergi,” jelas Robbins.Penyakit yang sering disebut depresi maniak ini menimpa hampir 6 juta orang dewasa di Amerika, atau sekitar 2,5 persen populasi dewasa. Kebanyakan penderitanya berawal dari depresi kecil. Menurut Robbins, seseorang yang dikategorikan sebagai bipolar maniak. “Orang yang terkena penyakit ini bagaikan memiliki empat wajah. Terkadang mereka bersemangat, tapi beberapa saat kemudian mereka sedih, panik, ketakutan dan sebagainya. Tipe penyakit ini berbeda-beda, tergantung durasi dan intensitas depresinya. Orang-orang seperti ini membutuhkan obat penstabil mood,” ujar Robbins.
4. Dalam sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh psikolog Alexander Niculescu dari Indiana University, para peneliti menemukan kalau anak yang mengalami gangguan bipolar kemungkinan memiliki gen RORB yang bermutasi. Gen ini menyandikan protein yang penting dalam fungsi jam circadian.Penelitian tim ini sebelumnya telah menemukan perubahan dalam gen ini dan gen jam tubuh lainnya dalam model hewan yang mengalami gangguan. Dalam studi terbaru ini, para ilmuan membandingkan genom dari 150 anak bipolar dengan 140 anak biasa. (Anak-anak dipilih untuk dipelajari dipelajari karena siklus mood mereka lebih cepat dari orang dewasa bipolar, dan siklus yang lebih cepat menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan jam circadia.) Tim ini menemukan kalau anak bipolar lebih mungkin memiliki satu dari empat jenis perubahan RORB, dan para peneliti menduga mutasi tersebut mencegah tubuh menghasilkan jumlah protein yang tepat untuk mendukung fungsi jam tubuh yang normal.Studi sebelumnya telah mengungkapkan fakta ilmiah kalau pengaturan jadwal tidur pasien bipolar dapat meningkatkan siklus mood ekstrim, namun para ilmuan tidak tahu kenapa bisa demikian – hingga hewan-hewan yang dipelajari menunjukkan adanya hubungan dengan gen jam circadian.“Setiap kali kami menyelidiki beberapa kejanggalan dalam mesin molekuler yang terkait dengan gen jam tubuh, kami menemukan adanya asosiasi dengan gangguan bipolar,” kata Francesco Benedetti, seorang ilmuan syaraf dari San Raffaele Scientific Institute di Milan, Italia, yang tidak terlibat dalam penelitian Indiana.
Tujuan puncaknya adalah menunjukkan mekanisme yang tepat yang menghubungkan fungsi jam dengan ayunan mood, dengan harapan merancang obat dan perawatan baru yang akan memperbaiki jam tubuh ke posisi semula.
5. Tanpa disadari pengobatan gangguan bipolar secara medis telah lama dilakukan. Dulu, dokter biasa menyuruh pasien gangguan mental minum air dari "alkali springs". Akhirnya,dokter mulai meresepkan litium yang merupakan ion dengan konsentrasi tinggi dalam sumber air tadi. Semua berjalan begitu saja tanpa ada penelitian ilmiah untuk menguak misteri air ’ajaib’ itu. Adalah Dr. John Cade, seorang psikiatri Australia, yang berhasil mempublikasikan pertama kali pada 1949 tentang peran litium dalam mengatasi gangguan mental. Sejak itu, penelitian dan obat baru pun mulai banyak ditemukan.Pengobatan yang ada ditujukan untuk me-manage gangguan bipolar sehingga kualitas hidup jadi meningkat. Pengobatan gangguan bipolar ditekankan pada tatalaksana efektif untuk jangka panjang. Obat yang digunakan untuk gangguan bipolar ini biasa disebut juga dengan mood stabilizer. Obat ini diharapkan bisa mencegah atau meredakan episode manik atau depresi. Mood stabilizer yang memperlihatkan efikasi diantaranya adalah litium dan antikonvulsan seperti asam valproat, karbamazepine dan lamotrigine. Selain itu juga digunakan  antipsikotik atipikal diakui untuk pengobatan mania akut (quetiapine, olanzapine, risperidone). Mood stabilizer umumnya lebih efektif mengobati mania ketimbang depresi. Tak Oleh karena itu terkadang untuk mengatasi periode depresi tersebut diberikan antidepresan. Namun ada indikasi bahwa pemberian antidepresan bisa menimbulkan bahaya bagi pasien bipolar. Pemberian antidepresan tanpa mood stabilizer disinyalir bisa menginduksi mania. Oleh karena itu, antidepresan hanya boleh berikan setelah psien stabil atau diberikan bersama mood stabilizer. Obat pertama  yang telah disahkan oleh FDA yang mengandung antidepresan plus mood stabilizer adalah Symbyax (Olanzapin-Fluoxetine HCl) produksi Eli Lilly.Kepatuhan berobat merupakan concern utama dalam pengobatan gangguan bipolar. Pasalnya, pada saat mania tentu kesadaran mereka hilang. Akibatnya kewaspaan kalau mereka berpenyakit juga turut hilang. Alhasil mereka menghentikan pengobatan. Di samping itu, pasien juga sering berhenti berobat saat gejala hilang dan berpikiran salah bahwa mereka telah sembuh. Alasan lain penghentian terapi adalah efek samping dan stigma mengalami gangguan jiwa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
www.maratulmutiah.blogspot.com
HAiiiiiii