Rabu, 20 Juni 2012

Wajah-Wajah Bercahaya

Wajah-wajah di hadapan saya itu tampak bercahaya. Setiap mata menyambut kedatangan kami dengan penuh persahabatan.

"How are you brother?", "How is life?", "Bagaimana keimanan anda hari ini?", "Bagaimana keadaan keluarga, pekerjaaan dan lingkungan anda?".

Pertanyaan-pertanyaan tulus tersebut sangat menyejukan. Berkhasiat bagai multivitamin, yang efektif meredakan kepenatan jiwa setelah satu pekan beraktivitas. Ditambah dengan percakapan yang ramah tanpa intrik. Sungguh, sebuah perkumpulan yang meneduhkan hati.

Setidaknya kesan itu yang saya tangkap, saat memenuhi undangan seorang sahabat, untuk menghadiri pengajian rutinnya di suatu sudut kota Rotterdam. Dalam hingar-bingar kota yang menjanjikan mimpi dan kemewahan, pengajian itu justru menawarkan ketentraman dengan cara yang lebih elegan. Rutinitas duniawi yang menjadi nyawa kota pelabuhan terbesar di Eropa itu, tidak mampu menganggu kekhusyuan mereka untuk mencari ilmu agama.

Saya tergugah oleh kecerahan spiritual yang dipancarkan sahabat-sahabat baru saya tersebut. Majlis dzikir itu mampu menyegarkan ruhiyah, bak oase di padang pasir. Dalam ganasnya persaingan hidup di negara sekuler, saya terhibur oleh suasana persaudaraan yang begitu hebat. Padahal, mereka bukanlah siapa-siapa bagi saya. Mereka bukan kerabat dekat. Bahkan, bukan saudara sebangsa. Para pemilik lisan-lisan, yang selalu bertasbih itu, tampak beragam. Nuansa internasional sungguh terasa disana. Selain muslim Eropa, terlihat juga wajah-wajah Afrika, Asia Tengah dan tentu ada tampang melayu seperti saya. Ikatan ukhuwah yang mereka tawarkan sungguh mengusik hati. "Kok ukhuwah seperti ini, mulai sulit saya dapati di negeri sendiri".

Berbagai pengajian yang sama-sama mengaku mengejar ridho dan cinta Rabb mereka, terlihat tidak sinergis. Ormas Islam yang memiliki massa puluhan juta, sepertinya tak pernah akur. Dalam Pemilu 2004 lalu misalnya, partai yang ber-label Islam terlihat berjalan sendiri-sendiri dengan agenda dan kepentingan mereka masing-masing. Wajar jika partai Islam menjadi kurang diminati. "Bagaimana mungkin kita akan mempercayai partai politik yang sudah terjerat nafsu berkuasa dan mengusung kepentingan mereka saja, tanpa pernah mau mengalah untuk kesatuan umat", demikian komentar seorang rekan yang galau dengan kecilnya perolehan suara partai Islam dalam pemilu kemarin.

Seorang sahabat yang lain, juga kesal dengan pertikaian yang mewabah di kalangan elit organisasi islam. "Apakah ini sunah dalam perjuangan? Apakah kumpulan-kumpulan yang berserakan itu akan mengundang pertolongan-Nya".

Sepertinya, rekan saya itu benar. Allah lebih mencintai perjuangan dari hamba-Nya yang bersatu-padu. "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaff [61:4]).

Bukankah, tali ukhuwah harus lebih ditinggikan diatas kepentingan politik dan fanatisme golongan. "Seorang mu'min dengan mu'min lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain." (HR Bukhari). Dalam hadist yang senada, Rasul Saw berpesan, "Perumpamaan kaum mu'minin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan menaruh rasa simpati, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut sakit juga, dengan demam dan tidak bisa tidur".

Sayangnya, "manajemen perbedaan" kita masih semrawut. Perbedaan yang semestinya menjadi rahmat, malah menjadi perangkap. Konflik dianggap sebagai harga mati dari sebuah perbedaan. Dengan alasan itu, sah-sah saja kalau dua saudara tidak berteguran karena beda partai. Dengan alasan yang sama, wajar saja, bila persahabatan merengang karena beda pengajian. Dalam konteks serupa, "anak gaul" cenderung menjauh dari "anak ngaji". Sebagaimana generasi bapak mereka yang sudah terpisah oleh dikotomi "kaum abangan versus santri".

Terlepas dari perbedaan budaya dan fikrah. Sebenarnya, pertikaian-pertikaian tersebut tidak perlu terjadi. Yang sangat disayangkan adalah fakta bahwa perselisihan umat itu justru menjadi warisan turun-temurun. Perselisihan terkesan seperti "dipelihara". Perbedaan antar Ormas; misalnya NU-Muhammadiyah, selalu menjadi komoditas politik para elit negeri. Sementara itu, polemik antar pengajian yang berbeda aliran, sengaja dilestarikan agar umat ini tak pernah hidup rukun, agar bangsa ini tidak sempat duduk bermufakat.

Oki Omuraza. omurazza at yahoo dot com. TU Delft, The Netherlands

Sumber: eramuslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
www.maratulmutiah.blogspot.com
HAiiiiiii